On-time; to be or not to be?

“Ok, kita rapat jam 12 sampai jam 2 ya…”.

Itu kesepakatannya. Yang ada di kepala saya adalah, rapat akan dimulai jam 12, dan diperkirakan berlangsung selama dua jam, sehingga akan selesai jam dua.

Awalnya saya berniat membawa Zaidan ke tempat rapat supaya bapaknya bisa kerja dengan tenang di rumah. Tapi, saat itu saya sudah telat (setidaknya, itu yang saya kira). Tinggal 15 menit lagi menuju jam 12 dan saya masih di rumah. Membawa Zaidan, artinya saya tidak bisa “menyeberang nakal”, harus tertib, dan itu berarti jarak tempuh sedikit lebih jauh. DItambah lagi, Zaidan tentunya tidak bisa jalan secepat saya, langkahnya pun masih kecil-kecil. Bisa-bisa saya akan sampai lewat dari jam 12.

Akhirnya suami mengalah. Zaidan biar ditemani bapaknya di rumah selama mamahnya rapat. Saya akhirnya bisa segera bersiap dan menempuh jalan pintas menuju tempat rapat, dengan “menyeberang nakal”. Setengah berlari saya waktu itu. Sampai di lokasi dua menit lewat dari jam 12, dengan masih membawa perasaan “hadhuh, saya telat”.

Reality bites. Selain saya, hanya satu orang yang sudah datang dan siap rapat. Beberapa orang lainnya baru datang menjelang setengah satu, sisanya beberapa menit menjelang jam satu. Rapat dimulai jam 12.52, selesai jam 3 kurang. Mundur satu jam dari rencana semula. Saya tetap bisa mengikuti rapat sampai selesai, karena saya tahu suami saya begitu sabar dan pengertian, tidak ribut menyuruh saya pulang supaya dia bisa kerja. Tapi apa iya mau seperti itu terus?

Saya tumbuh dan terbiasa hidup dengan orang-orang yang selalu tepat waktu, walaupun tinggal di Jakarta yang semua orang tahu, ada “macet” untuk dijadikan alasan. Salah satu kebiasaan yang sama-sama dimiliki bapak dan suami saya adalah, tepat waktu ketika ada janji dengan orang lain. Selain supaya waktu bisa termanfaatkan dengan baik, rapat berjalan lancar tanpa ada “bad mood” karena menunggu orang yang telat, juga karena kita harus menghargai waktu orang lain. Itu alasan mereka. Rapat jam 12 berarti harus tiba di tempat rapat sebelum jam 12, supaya rapat bisa dimulai tepat waktu. Kalau tahu Jakarta selalu macet, berarti harus berangkat lebih awal, bukan menjadikan macet sebagai alasan untuk telat. Kalau tahu akan datang telat, beri kabar pada yang lain. Lagi-lagi, untuk menghargai mereka yang sudah datang tepat waktu dan menunggu. Itu juga yang ada di kepala saya beberapa hari kemarin. Sampai jam 12.02 berarti saya telat. I was wrong.

Seandainya saya tahu rapat akan dimulai jam satu kurang, saya bisa membawa Zaidan, suami pun bisa kerja. Well, manage your expectations. Itu yang hampir selalu suami saya bilang kalau ada apa-apa. I can be flexible. Telat 10 sampai 15 menit saya masih bisa terima. Tapi kalau sampai satu jam? Saya benar-benar harus menata hati supaya tetap bisa mengikuti rapat tanpa bad mood. Kalau suami saya pasti sudah BT setengah mati, hihihi.

Terlalu serius dan kaku? Entah. Yang jelas, saya cuma tidak terbiasa dengan kesepakatan seperti, bilang-aja-jam-12-paling-baru-pada-dateng-setengah-satu. Memang tidak semua orang punya pemikiran dan komitmen yang sama. Itu catatan penting buat saya. Another lesson learned.

Three Interesting Questions

Wawancara beasiswa yang akhirnya membawa saya ke Australia ini adalah salah satu pengalaman berkesan. Di antara pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dua orang pewawancara waktu itu, ada tiga pertanyaan yang paling berkesan dan masih saya ingat persis sampai sekarang.

Pertama, ini adalah pertanyaan pertama, saat saya baru saja dipersilakan duduk di ruang wawancara dan salah satu pewawancara masih mengkonfirmasi beberapa informasi yang sepertinya dia lihat dari aplikasi saya. “Why don’t you work as PNS?”.

Ke-dua, seiring berlangsungnya tanya jawab antara saya dan salah satu pewawancara, pewawancara yang lain menyahut dengan pertanyaan ini, yang saya kutip seingat saya karena lupa kalimat persisnya. “Do you think organization like your previous office will be interested in having someone with higher education? Don’t you think they will be more interested with someone who can work?”.

Ke-tiga, juga dari pewawancara yang sama dengan pertanyaan di atas, adalah tentang isu yang saya bahas di dalam aplikasi beasiswa. “Why do you think this issue is important? If you ask Indonesian people, they will say about better education, better health, not this. How can you convince me about this?”.

Well, kita boleh belajar dari banyak bahan, kita boleh berlatih sesering apapun, tapi di medan perang, apapun bisa terjadi :)

ADS: Atas Dukungan Suami

ADS: Atas Dukungan Suami

Hihihi lucu juga yah karangan bebas (baca: ngasal) kepanjangan ADS ini. Baru beberapa hari yang lalu saya mendengarnya, dari seorang kenalan baru. Cerita persisnya saya lupa, yang jelas istilah ini dia dengar dari temannya yang sama-sama “berkarir” di Queen Victoria Market, Melbourne.

Tapi kalau dipikir-pikir, buat saya pribadi, istilah ini bukan sekedar ngasal. Suami adalah pendukung nomor satu, sejak saya baru berniat melamar beasiswa, sampai sekarang, dan semoga seterusnya.

Memang, Dia yang mengabulkan cita saya. Mamah dan Bapak, walaupun tidak pernah secara eksplisit bilang, juga pasti selalu mendoakan yang terbaik buat saya, dan katanya, ridha orang tua adalah ridha-Nya. Tapi suami, tanpa mengecilkan Dia dan kedua orang tua, selalu ada di samping saya dengan segala bentuk dukungannya.

Waktu saya harus les IELTS seminggu tiga kali setiap pulang kantor, dia selalu setia menunggu untuk pulang bareng, tidak pernah sekalipun pulang duluan dari kantornya. Waktu saya harus tes IELTS untuk kepentingan melamar beasiswa, dia menemani belajar dan mengantar ke tempat tes. Waktu saya harus mengisi aplikasi beasiswa, dia ikut memberikan ide bagaimana sebaiknya menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dan membaca dengan seksama sebelum aplikasi dikirimkan. Waktu aplikasi saya diterima untuk tes selanjutnya, sekali lagi dia menemani belajar, diskusi, dan brainstorming tentang isu-isu yang saya perkirakan akan ditanyakan saat tes, mengantar ke tempat tes, menunggu sampai selesai. Waktu akhirnya saya mendapatkan beasiswa itu dan harus berangkat duluan ke Australia, berpisah selama dua bulan lebih dengannya dan Zaidan, dia dengan senang hati selalu menemani Zaidan.

Semua itu rasanya baru sebagian kecil dari dukungan-dukungannya. Semoga suatu saat saya bisa membalasnya. Tidak dengan masakan enak tentunya, karena saya tidak bisa masak. Tidak dengan barang-barang bagus pastinya, karena saya tidak punya penghasilan. Tidak juga dengan bermanis-manis, walau kuliah sudah selesai nanti, karena saya perempuan yang suka emosi dan keras kepala, dan dia tahu itu.

Tapi saya berjanji akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia sudah lakukan waktu saya mengejar beasiswa ini. Semoga kesempatan itu akan datang, walau belum tahu kapan, karena sekarang katanya, dia belum siap Permanent Head Damage :p

Empat Tahun Lalu

“Wah! Udah lengkap nih pembukaannya! Yuk pindah ke ruang bersalin!”, ujar salah satu suster yang akhirnya berhasil memeriksa pembukaan mulut rahim saya, setengah berteriak. Sejak dipastikan hamil, sampai beberapa saat menjelang melahirkan, saya tidak pernah periksa panggul dan periksa pembukaan. Alasannya cuma satu, saya takut. Tapi, niat saya untuk melahirkan tanpa operasi, bulat sebulat-bulatnya. Aneh sih, tapi boleh dong niat, apalagi selama kehamilan tidak pernah ada masalah selain ketakutan saya diperiksa pembukaan jalan lahir, hehehe…

H-2

“Kayanya bayinya besar nih Bu, tiga kilo lebih. Harus operasi nih kayanya…”, komentar suster yang ikut menyaksikan saya teriak histeris waktu alat medis yang bentuknya seperti mulut bebek dimasukkan “secara paksa” ke mulut rahim saya. Mungkin karena badan saya kecil, perut besar dan sepertinya bayinya besar, ditambah lagi tidak berani periksa pembukaan. Waktu itu saya datang ke rumah sakit tempat rutin kontrol kehamilan karena curiga air ketuban pecah. Sudah dimasukkan seperti kertas kecil untuk memastikan rembesan air yang saya temukan di rumah itu air ketuban atau bukan, tetap hasilnya tidak maksimal, karena ya itu tadi, saya takut. Akhirnya diputuskan untuk diperiksa pembukaan mulut rahimnya. Beberapa suster siap siaga. Karena saya tegang dan cenderung melawan, kaki dan tangan diikat ke kursi bersalin. Suster-suster itu sudah tidak bisa menahan tenaga saya. Berulang kali mereka bilang supaya rileks, tetap tidak bisa. Saya tegang setengah mati. Hasilnya, ketika alat itu dimasukkan, rasanya bikin saya teriak histeris sekencang-kencangnya. Mereka menyerah. Kemudian diputuskan menunggu saja hasil konsultasi dengan dokter besok pagi.

H-1

Ketemu dokter, kejadian yang sama terulang, walau tidak seluruhnya. Saat si mulut bebek itu sudah di depan mata, dokter sadar tegangnya saya tidak main-main. “Tegang banget nih ibunya, nanti bayinya ikut stress lagi. Yaudah ga usah deh. Kita USG aja ya… Air ketubannya masih ok kok…”. Tanpa pernah sekalipun menyebut kata “operasi”, dokter memberi saya deadline. Kalau sampai tiga hari ke depan belum ada tanda-tanda mau melahirkan, saya harus periksa lagi.

Malamnya, tepat jam setengah sepuluh, tidak lama setelah saya menghabiskan sepiring mie rebus pedas, perut mulai bereaksi. Mules. Saya pikir, ini dia waktunya. Mulai dari 15 menit sekali, rasa mules itu makin sering datang dan makin lama terasa. Bolak-balik ke kamar mandi karena rasanya seperti mau buang air besar, tapi ya tidak ada yang keluar. Jangankan tidur, cari posisi yang enak saja susahnya minta ampun. Serba salah. Satu-satunya yang lumayan membuat nyaman adalah waktu punggung bagian bawah diusap-usap, dipijat pelan-pelan. Nah, di sinilah peran partner in crime saya, bapaknya Zaidan. Setiap kontraksi datang, saya minta dipijat. Setiap itu pula dia siap bangun dan memijat. Awalnya sih terasa, enak, eeehh lama-lama kok makin pelan pijatannya, sampai akhirnya cuma tangan yang nempel. Hyaaaaa dia ketiduran. Kesel dong. Saya bangunin aja, minta dipijat lagi. Baru deh pijatan itu terasa lagi. Hihihi, kasihan sih, tapi gimana lagi.

Hari H

Jam dua dini hari, mucus plug itu keluar. Kontraksi makin intensif. Tiga jam kemudian akhirnya saya putuskan mau ke rumah sakit saja. Akhirnya setelah sholat subuh sambil duduk di kursi dan meringis-meringis di tengah bacaan sholat, saya berangkat ditemani suami yang bertugas terus memijat, dan mamah yang bertugas menyetir mobil ke rumah sakit. Kalau dipikir-pikir lagi, jelek banget saya waktu itu. Pergi tanpa ganti baju dulu, muka kusut, pakai daster sama sarung. Di jalan, suami telepon dokter karena saya cuma mau ditangani dia yang baik hati dan pengertian itu. Sesekali sambil memijat, suami menyuapi makanan seadanya. Mamah dengan sigap menyetir, dan untungnya jalanan di Sabtu pagi itu kosong tanpa hambatan.

Sampai di rumah sakit, lagi-lagi saya takut. Tidak mau diperiksa pembukaannya. Dokter masih sabar. Suster-suster yang tidak sabar. Setelah memberikan deadline lagi beberapa jam, dokter pergi meninggalkan saya yang tegang, karena harus periksa pasien lainnya. Suster-suster datang bergantian berusaha meyakinkan saya supaya rileks dan mau diperiksa. Saya keras kepala, takut. “Kalau sampe ada apa-apa sama bayi kamu, jangan nyesel yah…”, mamah akhirnya “mengancam”. Berhasil. Saya mikir, dan mau diperiksa. Tapi tetap, susah. Akhirnya, atas inisiatif mamah yang menyuruh seorang suster diam-diam datang sambil menunduk, dan suami mengajak ngobrol sambil memeluk dan menghalangi pandangan saya, berhasillah suster itu melakukan tugasnya dan ternyata pembukaan sudah lengkap!

Niat saya diridhai Allah SWT, alhamdulillah. Setelah mengejan sebanyak tiga ronde (dua kali setiap rondenya), keluarlah bayi ungu itu. “Akhirnya, kita ketemu juga…”, kalimat pertama yang keluar dari mulut saya begitu melihatnya. Atas izin-Nya, saya yang badannya kecil ini, akhirnya melahirkan secara spontan (normal) bayi sebesar 3,3 kg dengan panjang 49 cm.

Nikmat-Nya yang mana lagi yang bisa saya dustakan?

PS: Selamat ulang tahun yang ke-4 ya Zaidan Mikail Aksata :)

Konser Yang Aneh

Weekend pertama gw di Aceh gw habiskan dengan nonton konsernya Radja Ratu.

Jadi, waktu hari ke-2 gw kerja, salah satu ekspat -yang nampak ngefans sama Radja dan sempet nunjukkin kebolehannya nyanyiin lagu idolanya itu- cerita kalo mau ada konser di Aceh. Konsernya Radja dan Ratu. Dia bilang orang kantor pada mau nonton bareng. Dalam hati, “duh…males banget sih… Radja gitu loh…”. Eh sorenya gw dapet tiket konser itu. Heemm… setelah gw pikir-pikir, lumayan juga nih dapet gratisan, ga penting siapa artisnya, jarang-jarang kan gw nonton konser di Aceh nun jauh dari Jakarta dan Bandung ini. Hohoho…

Alhasil Sabtu malem abis Maghrib pergilah gw dan beberapa teman ke sebuah stadion lapangan sepak bola tempat konser bakal digelar. Sampai di sana, udah rame banget. Pintu masuk dibagi dua, satu pintu masuk untuk penonton perempuan, dan satu pintu masuk untuk penonton laki-laki. Oia, di Aceh, penonton konser harus dipisah antara yang laki-laki dan perempuan. Teorinya…

Di pagar pintu masuk penonton perempuan, ada kertas ditempel, kira-kira tulisannya begini, “Wajib mengenakan busana muslim”. Beberapa polisi syariah perempuan dan laki-laki yang seragamnya warna hijau -beda dengan seragam polisi biasa- berdiri dengan muka serius, sok galak. Pas mo masuk, gw sempet dicegat! Gara-garanya, gaya pake kerudung gw adalah dengan mengikat kerudung gw ke belakang, dan gw disuruh nurunin kerudung gw. Padahal, gw kan ga pake peniti, kalo kerudung gw turunin ya ga akan bisa, yang ada lepas! Selagi gw bingung, salah satu temen gw narik tangan gw sambil ngomong, “udah ayo masuk aja”. Temen gw yang lain juga sempet dicegat, alasannya sama ma gw.

Di dalem stadion, ada satu panggung lumayan besar, dua layar besar masing-masing di kiri dan kanan panggung, dan tidak lupa pagar besi pembatas antara laki-laki dan perempuan. Penontonnya banyak juga. Mungkin karena harga tiketnya relatif murah, sepuluh ribu perak.

Yang bakal tampil pertama adalah Ratu. Abis itu baru Radja. Eits, salah. Yang tampil pertama adalah polisi syariah.

Tiga orang laki-laki berseragam hijau itu naik ke atas panggung. Satu orang mendekati mic, dua orang lainnya berdiri di samping kanan dan kirinya, tapi agak ke belakang. Kalau cuma sekedar pidato singkat pembuka yang mengingatkan penonton untuk tertib dan tidak melanggar pagar pembatas sih, gapapa. Tapi ini… ya Allah, dia ceramah! Kira-kira setengah jam…

“Allah Akbar… Allah Akbar… Allah Akbar…”

“Aceh mau menerapkan syariat Islam, setuju tidaaaaakkk????”

“Kalau penonton laki-laki dan perempuan tidak dipisah, kan kasihan penonton perempuan…. dilanjutin pake bahasa Aceh, yang kata temen gw yang orang Aceh, dia ngomongnya yang aneh menjurus mesum gitu…”

Dalil-dalil, kutipan ayat Alquran, dll.

Nyanyi-nyanyi bahasa Aceh, dll.

Dll… dll…

Gw kok jadi ga simpatik. Gw kok jadi sebel. Norak banget sih tu orang. Pengen ikutan konser juga apa ya dia?

Penampilan Ratu keren! Kostum panggung duo Maia dan Mulan tertutup tapi tetep gaya. Suara Mulan bagus, bertenaga, tapi tetep kekontrol. Dia juga komunikatif sama penonton. Lagunya enak-enak, cara Mulan ngebawainnya juga pas banget dan bisa bikin penonton ikut tenggelam dalam kata-kata di lagunya… halaaahhh… apa itu gw doang yak? Huhuhuhu… Oia, penampilan yang keren itu sempet distop lumayan lama. Panitia naik ke atas panggung. Kenapa? Mereka dapet teguran dari polisi syariah. Katanya banyak penonton laki-laki pindah ke tempat penonton perempuan, dan kalo pada ga mau tertib, konser ga bisa diterusin. Kalau gw jadi Mulan ato Maia, kayanya mood gw uda keburu ilang buat tampil lagi deh…

Selesai Ratu, Radja tampil. Gw ga menikmati karena gw ga suka Radja. Akhirnya gw sesekali ngeliat pemandangan di sekeliling gw. Penonton laki-laki dan perempuan udah berbaur. Banyak pasangan, mulai dari ABG sampai orang dewasa, yang pegangan tangan, pelukan, atau sekedar ngobrol. Kerudung banyak yang dilepas. Di lagu-lagu tertentu, penonton loncat-loncat, sikut sana sikut sini, trus sempet rusuh deh. Untungnya gw dan teman-teman udah berhasil ngeluarin diri dari kerumunan sejak lagu terakhir Ratu abis, dengan selamat.

Petugas, polisi biasa, polisi syariah? Mereka ada. Berbaur juga sama penonton.

Gw jadi heran, apa gunanya yah setengah jam ceramah di awal konser tadi? Konser yang aneh.

— 12 April 2006

“Lo ga pengen tinggi apa?”

Banyak cara untuk mendorong seseorang agar mau berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menyindir orang itu terus – menerus. Nah, cara inilah yang saya pakai untuk adik saya.

“A’, lo ga pengen kurus apa?”

Dulu, sampai sebelum masuk SMA, badannya boleh dibilang ideal. Tidak kurus, tidak juga gemuk. Mukanya juga bisa dibilang lumayan. Tetangga dan beberapa temannya pernah memberi komentar, “Eh, si Irfan tuh mirip ama Indra Brugmann loh.” Dan saya hanya menjawab, “Idih, masa sih??”

Tapi sekarang, Masya Allaaahhh… Itu badan, perut khususnya, udah kaya bapak-bapak yang udah punya anak berapa aja. Belum lagi mukanya, walaupun masih ada teman saya yang menyebutnya “ganteng”, tetap saja saya merasa mukanya “boros”. Lha wong kalau habis bayar parkir sering dibilang “Pak” kok.

Nah, saya bermaksud baik dengan menyindirnya terus-terusan. Siapa tahu dia kesal dan akhirnya mau mulai rajin olah raga, syukur-syukur mengurangi porsi makannya. Tapi boro-boro. Yang ada, dia sekarang sudah punya kalimat balasan.

“Teh, lo ga pengen tinggi apa?”

Kurang ajar tuh anak. Huh. Kecil kan indah.

Oiah, saya memanggil adik saya itu dengan panggilan A’, singkatan dari Aa, alias kakak. Aneh memang, tapi ada alasannya kok. Jadi saya memanggil dia Aa dan dia memanggil saya Teteh. Ah sudahlah. Yang penting sekarang saya harus mencari kalimat balasan lagi.

— 19 Januari 2006

Kualat

Ya ampun! Blog lama saya masih ada dan masih bisa diakses! Ternyata dulu saya lumayan konsisten menulis. Banyak cerita, salah satunya adalah yang saya salin di bawah ini. Tulisan yang dibuat sembilan tahun yang lalu, waktu saya masih muda :p

Judulnya, “Kualat”.

Hari Ibu baru saja lewat. Barusan saya tiba-tiba ingat sesuatu yang sudah berhasil memberi saya pelajaran berharga, JANGAN PERNAH NGATAIN IBU SENDIRI, KUALAT!

Kejadiannya sudah lama, kapan tepatnya saya lupa.

“Nih Mah, rambut tuh kaya gini, bagus, jatoh.”

“Iihh kaya gini dong, bagus, ngembang.”

“Yaahhh… apaan rambut kaya ijuk gitu, bagusan yang jatoh gini. Di iklan-iklan sampo juga yang dipake’ kan yang rambutnya jatoh kaya gini, bukan yang ngembang gitu.”

Sejak itu (sepertinya) saya kualat. Dulu, dari kecil sampai SMA, rambut saya “jatoh”. Tipe rambut yang lemeees banget kalau habis keramas. Tapi sekarang, rambut saya jadi beda. Tidak lagi “jatoh”. Tidak lagi lemes kalau habis keramas. Yang ada malah ngembang. Kaku. Belum lagi, tidak setebal dan sehitam dulu. Padahal saya tidak pernah ngeblow rambut kalau habis keramas, malas. Padahal saya tidak pernah ke salon kalau bukan untuk potong rambut, kalau bukan untuk creambath setelah ujian, kalau bukan buat tampil rapi untuk kondangan.

Rambut saya sekarang seperti ijuk. Yaahhh…. ga sekeras dan sekaku ijuk sih, tapi tetep aja ga selemes dan sejatoh dulu. Dan rambut mamah saya tercinta itu masih seperti dulu. Hitam, tebal, dan saya semakin menyadari, rambutnya ternyata tidak seperti ijuk. Tidak “jatoh” seperti di iklan-iklan sampo memang, tapi lemes dan tidak kaku.

Saya kualat… Hhmmhh…

— 23 Desember 2005