Belajar Kalah

Kemarin, untuk pertama kalinya, Zaidan ikut berbagai lomba 17-an. Membawa kelereng dengan sendok, memindahkan bendera, dan memasukkan pensil ke dalam botol.

Tidak satupun lomba Zaidan menangkan. Yang paling menantang untuknya adalah lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Ketika teman-temannya sudah berhasil, Zaidan masih tidak tahu harus bagaimana supaya pensilnya masuk ke dalam lubang botol yang begitu kecil. Tinggal sendiri di lintasan lomba dan menjadi orang terakhir yang menyelesaikan tugasnya. Kalah dan malu pastinya, mengingat jiwa kompetisi yang dimilikinya cukup tinggi.

Bapak dan Mamah lupa kalau Zaidan tidak tahu. Tidak terpikirkan oleh Bapak dan Mamah untuk mengajari dulu. Bapak dan Mamah mendadak sibuk menyiapkan ini dan itu untuk keperluan acara 17-an warga. Bapak dan Mamah bahkan sering lupa menyemangati Zaidan ketika lomba.

Selalu kalah, tapi tetap tinggal di tempat acara sampai selesai, tidak rewel karena tidak jadi juara, dan tetap bermain bersama teman-teman. Punya anak 6,5 tahun dengan mental seperti itu, Mamah is super proud. Orang dewasa saja belum tentu bisa tetap berdiri tegak setelah kalah dalam banyak hal. “I am proud of you, Zaidan mau ikut lomba-lomba”, “Iya, tapi susaah, hole-nya kecil banget”, “Gapapa, kalau ada lomba-lomba itu yang penting Zaidan ikut, kalau menang ya bonus, kalau ga menang ya gapapa”, “Nanti kita coba ya Mah, biar Zaidan bisa”, “Ok, nanti kita cari botolnya, terus coba masukkin pensil kaya tadi ya”.

Semoga obrolan singkat sebelum tidur itu selalu diingat Zaidan. Dalam hidup ada menang dan kalah. Kita harus berusaha untuk menang. Tapi kalau ternyata kalah, berbesar hatilah dan jangan takut mencoba lagi.

Selamat 72 tahun Indonesia, you know how I feel about you. Merdeka! 😘

– Instagram, 21 Agustus 2017

Advertisements

Drama Lulusan Luar Negeri

Baru-baru ini beredar dua tulisan yang “menyentil” para pemuda/i Indonesia lulusan luar negeri, termasuk saya, yang mendapat kesempatan mencicipi sekolah di Australia, negara maju tetangga Indonesia.

Kami dianggap hanya bisa mengeluh, membandingkan kondisi negeri sendiri dengan kondisi negara tempat kami belajar, tanpa bisa berkontribusi nyata untuk perubahan. Kami juga dibilang sebagai orang dengan “mental terjajah” yang langsung merasa “wow” melihat segala kemapanan di negara tempat kami menuntut ilmu.

Apa iya begitu? Saya lalu diskusi dengan teman-teman di grup “Monashian”, sempat juga ngobrol singkat dengan suami. Di satu sisi, kedua tulisan itu ada benarnya.

Kami pun introspeksi diri. Salah satu tantangan terbesar memang untuk tidak membanding-bandingkan. Saya pun suka mengeluh saat baru pulang. Jalanan macet lah, orang tidak bisa antre lah, orang buang sampah sembarangan lah, urusan di bank ribet lah, macam-macam.

Tapi lalu saya istighfar. Terlebih ketika ingat, saya belum melakukan apa-apa dengan ilmu saya untuk negara ini. Sementara teman-teman sudah kembali ke kantor, saya masih di rumah saja, hanya mengurus segala keperluan anak dan rumah tangga. Kontribusi saya baru sebatas berusaha menjadi warga yang baik yang mengajari anaknya agar menjadi baik pula.

Kami lalu sadar, dua hal yang tidak sama, tidak bisa dibandingkan. Lalu apa benar kami berangkat sekolah dengan mental terjajah? Rasanya kok tidak ya. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman.

Datang dari Indonesia, negara dengan kondisi lapangan yang menantang, kami justru sering jadi “tempat belajar” mahasiswa dari negara lain, negara yang sudah mapan. Bukan perasaan terjajah apalagi minder yang ada, justru bangga.

Lalu bagaimana ketika merasakan segala kenyamanan di negara maju? Merasa “wow” kan? Jelas. Tapi kami juga belajar. Memang tidak semua bisa diterapkan di Indonesia karena konteks yang jauh berbeda. Tapi bukan berarti tidak ada hal baik yang bisa ditiru.

Sabar mengantre dan membuang sampah pada tempatnya, rasanya tidak sulit, asalkan mau dan ingat akan kepentingan orang lain. Rasanya tidak perlu juga sedikit-sedikit berkilah “mau gimana lagi, kan emang gitu di sini” ☺️

My Big Brave Baby Boy

To be in a new place is always challenging for him.

It took him a couple of weeks until he can be dropped at school without any drama or crying. He was not talking to friends and teachers until the second term started. Now, after almost a year, he likes being at school playing with friends, he often leaves the school one hour after the school time is finished. He is very close to his friends, he is very attached to his kinder. “I am gonna miss my kinder”, he said many times lately.

Soon, he will move to a new school. He will spend time with new friends and new teachers. He was always nervous in every orientation activity. Today, he was quietly crying once entering the room full of new people, even though I was with him. Only after a while he stopped crying and got the courage to let me go from his side. Teachers and older kids were approaching, trying to comfort him, but he just got more nervous and when he could not stand it, he was crying again.

I was watching from the other side of the room and I was so proud. He managed to deal with his fear and he did not run to his mom. He cried, he did not eat his lunch, he did not talk to people, but he was staying and involved in the activity, eventually. He went out with all the children for bear hunting, without even looking at me. At the end of the session, he returned to the room accompanied by one older kid, and he was smiling.

I am proud of him, not for being easy, but for being brave

12289533_10153261251324607_8471472656007487563_n

— Facebook, 25 November 2015

Zaidan, Izza, dan Musa

Musa: “Aku sama Zaidan!”

Izza: “Kata siapa?! Aku sama Zaidan!”

Teacher: “Udah, Zaidan sama Rara aja”.

Dulu, saya kira Zaidan akan jadi anak pemalu dan pendiam di sekolah. Saya sempat berpikir, “Gimana ya nanti Zaidan kalo udah sekolah, punya temen ga ya?”. Ternyata, selama kinder dan prep di Clayton, sampai sekarang TK B di Depok, Zaidan justru jadi salah satu anggota tim rusuh di kelasnya. Termasuk gerombolan yang tidak bisa diam dan banyak mengobrol. Bisa main dengan siapa saja, tapi selalu punya teman dekat.

Pulang sekolah saat baru kembali dari Langkawi, Zaidan bercerita, “Mah, tadi waktu Zaidan baru masuk kelas, temen-temen pada hug Zaidan, they said they miss me“.

Melihat bagaimana Zaidan begitu disayang teman-temannya, adem rasanya hati ini 🙂

— Instagram, 24 Maret 2017

Dosen Bertato

Salah satu mata kuliah yang saya ambil semester ini judulnya “Terrorism, fringe politics, and extremist violence”.

Hampir setiap mengajar, dosennya, yang titelnya adalah Associate Professor, berpenampilan santai dengan kaos oblong, celana jeans, dan sepatu kets. Di kedua tangannya ada beberapa tato yang ukurannya lumayan besar, bisa terlihat dari jarak agak jauh.

Selama lima minggu perkuliahan ini, Islam banyak disebut dan dibahas kaitannya dengan radikalisme, terorisme, Islamisme, Jihadisme, dan lainnya. Kutipan ayat-ayat Alquran dan hadis juga banyak disampaikan di kelas, dengan fasih. Semua pembahasan selalu berujung pada kesimpulan bahwa tidak ada yang salah dengan ajaran Islam, tetapi interpretasi para radikal dan teroris yang tebang pilih-lah yang salah, ditambah dengan banyak faktor lainnya yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama. Intinya, Islam itu damai dan humane.

Beberapa kali saya kagum. Kok fasih banget ya ini dosen menyampaikan ajaran Islam. Ada juga hal-hal yang dia sampaikan, saya baru tahu. Saya jadi malu sendiri, belum banyak belajar ilmu agama.

Barusan saya tahu, ternyata dosen ini seorang muslim. Kalau ketemu dengan orang seperti dia di jalan, baju santai dan tato banyak, tidak akan pernah menyangka kalau dia seorang muslim, akademisi, doktor pula

Satu pengalaman lagi, dari sekian banyak pengalaman selama di Australia, jangan pernah menilai orang hanya dengan melihat penampilan luarnya

— Facebook, 7 April 2016

Sweet Little Surprises from Him

Beberapa minggu lalu, telat men-submit tugas pertama salah satu mata kuliah selama beberapa jam. Walau sadar bahwa konsekuensinya tugas itu tidak akan dinilai dan harus menulis tugas berikutnya sebanyak 7000 dan bukan 5000 kata, saya keukeuh submit karena sudah terlanjur membaca banyak bahan dan memang tertarik dan ingin menulis tentang topik itu.

Beberapa hari kemudian, bapak mamah datang untuk liburan selama tiga minggu. Deadline untuk essay 7000 kata tadi dan essay mata kuliah lain sebanyak 5000 kata, saling berdekatan, dan hanya selang satu dan tiga hari sejak tanggal bapak dan mamah akan pulang ke Indonesia. Produktivitas menurun karena tidak tega membiarkan bapak mamah hanya di rumah tanpa diajak jalan-jalan. Berdoa saja, semoga diberi kelancaran waktu menulis.

Beberapa hari sebelum deadline 7000 kata, ada email dari dosennya yang mengabarkan kalau deadline diundur sampai seminggu kemudian. ALHAMDULILLAH (yang pertama).

Bapak dan mamah pulang, kembali fokus ke dua tugas besar itu. 5000 kata harus di-submit sebelum jam 5 sore hari Senin, dan 7000 kata harus di-submit sebelum jam 5 sore hari Jumat. Bolak-balik antara membaca bahan untuk 5000 dan 7000 kata, saya akhirnya dahulukan menulis tugas 5000 kata.

Di tengah proses menulis 5000 kata, datang email dari dosen 7000 kata, melampirkan laporan untuk tugas pertama saya yang telat di-submit beberapa minggu lalu itu. Tugas saya diberi nilai dan feedback yang rinci. Tidak sempurna, tapi hasilnya cukup membuat saya senyum-senyum. Tugas pertama dinilai, berarti tugas ke-dua tidak perlu menulis sebanyak 7000, cukup 5000 kata. ALHAMDULILLAH (yang ke-dua).

Proses menulis 5000 kata berlanjut, dengan kecepatan yang tidak ngebut karena saya sulit menghilangkan sifat perfeksionis saya. Inginnya setiap kata dan kalimat benar-benar dipikirkan sebelum ditulis. Sampai akhirnya waktu tinggal kurang dari dua belas jam sebelum deadline, saya putuskan untuk menambah kecepatan. Mana bisa perfect kalau waktunya mepet.

Sebelum mulai dengan kecepatan baru, saya cek apakah sudah ada link untuk men-submit tugas ini. Link sudah ada, dan ternyata deadline tidak jadi jam 5 sore, tapi jam 23.59. ALHAMDULILLAH (yang ke-tiga).

Seriiiiiinnnggg sekali saya mendapat kejutan-kejutan seperti ini. Dia kasih jalan dan kemudahan, dan bukan hanya untuk urusan kuliah. Kalau sudah begini, malu rasanya kalau ingat masih suka menunda lapor diri pada-Nya. Baiklah, sekarang, mari lanjut menulis…

*ini berapa kata yak?

— Facebook, 8 Mei 2016

Chasing Asylum

Depressing. Watching it, I was crying, at heart. But then literally, at the end of the movie.

It was showing the condition of the asylum seekers in Manus Island, in Nauru, and in Cisarua, Indonesia, where I worked for almost two years. Had a chance to meet many asylum seekers and talked to them when I was in Cisarua, I didn’t realize back then how depressing their situation was. Maybe because I was too busy to just get things done. Watching it in a film, was totally different.

I have been wondering since nine years ago when I started working for the organization, and I am getting even more wondering now. Will there be any chance, that the Australian Government will change their attitudes and policy towards asylum seekers? Is there anything the Australian people can do to push their government? I was surprised to see, so many Australians are interested in this issue, they came to watch the film, the theatre was full. But after that, once they left the theatre, what will happen?

There are millions of academic journal articles and other writings related to this topic. There have been many discussions on this. I, myself, am now doing the Human Rights unit where one of the topics is about the rights of asylum seekers and refugees. But what will those things do for the betterment of asylum seekers, real people, out there?

Can talking, studying, and discussing human rights, really mean something?

— Facebook, 16 Mei 2016