Berani Mimpi

“There is nothing like a dream to create the future” —Victor Hugo

Dulu, saya termasuk orang yang tidak pernah (berani) punya mimpi. Jalani saja dulu apa yang ada di depan mata. Kalaupun ada yang ingin dicapai, cukup saya dan Tuhan yang tahu, tidak pernah saya berbagi soal ini dengan siapapun. Alasannya, takut kecewa dan malu. Mungkin ini sebabnya saya tidak pernah punya visi dan misi yang jelas hidup ini mau diisi dengan apa. Seingat saya, bahkan sampai menjelang kuliah pun, saya masih meraba-raba, tetap dengan prinsip jalani apa yang ada dulu. Tapi untungnya saya bahagia dengan (hampir) semua yang saya temukan waktu itu.

Sampai suatu saat, di salah satu warung makan di depan kampus, saya entah kenapa akhirnya membagi cita-cita yang ada di kepala waktu itu, kepada beberapa teman di tengah makan siang. Saya bilang kalau setelah kuliah nanti, mau kerja dulu tiga sampai empat tahun, lalu nikah di usia 25 tahun, punya anak, kerja lagi, dan sekolah lagi. Kerja di mana, belum tahu. Nikah sama siapa, belum jelas. Tapi saya berharap jalan hidup saya akan seperti itu. Sekarang, sembilan tahun kemudian, saya sedang menjalani semua yang saya citakan, dengan urutan yang sama persis. Perjalanan sepanjang hampir satu dekade itu memang tidak selalu mulus, banyak jatuh bangun, bahkan sampai ada air mata. Tapi, nikmat-Nya yang mana yang bisa saya dustakan?

Kalau melihat lagi ke belakang, rasanya memang semua sudah diatur. Banyak kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya mau. Tapi ternyata, yang saya dapatkan malah justru lebih menyenangkan dan membahagiakan pada akhirnya. Kalau dulu kalimat-kalimat seperti “apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan” atau “Tuhan pasti memberikan yang terbaik” terdengar klise buat saya, sekarang saya kena batunya. Saya sudah merasakan sendiri kebenarannya. Satu ungkapan yang juga selalu saya ingat adalah bahwa alam semesta akan membantu kita mewujudkan mimpi kalau kita juga sungguh-sungguh bekerja keras (lupa persisnya, tapi kurang lebih seperti itu).

“Lo bisa ngomong gitu karena akhirnya menyenangkan, cita-cita lo tercapai, coba kalo nggak, masih bisa ngomong gitu nggak?”

Well, ini kan cerita tentang pengalaman saya dan pelajaran yang saya ambil darinya. Setiap orang pasti punya cerita yang berbeda, silakan cerita di blog masing-masing saja ya, hehehe… Yang jelas, sekarang saya sudah tidak (terlalu) takut lagi untuk punya mimpi, walaupun masih takut membaginya dengan orang lain :)

Clayton, VIC.

Dua Tahun Tujuh Bulan

Dua tahun tujuh bulan, sejak terakhir saya menulis di sini. Banyak cerita yang seharusnya bisa dibagi, kalau saja saya tidak terlalu sibuk dengan kicauan di twitter atau update status di facebook. Kalau mau cari pembenaran, sifat saya yang perfeksionis bisa jadi penyebabnya. Seharusnya, menulis di blog ini kan tidak perlu terlalu serius, mengalir saja. Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Untuk menulis di sini, saya merasa harus mengalokasikan waktu khusus. Pilihan kata, kalimat, dan bagaimana alur tulisan dibuat, tetap harus dipikirkan dengan baik. Hasilnya, untuk menemukan kalimat pertama saja lamanya seperti mau menulis essay untuk tugas kuliah.

Mulai sekarang, saya mau mencoba rutin menulis (lagi).

Saya sedang mengungsi sementara, di benua tetangga. Sekolah (lagi) di Australia, adalah satu dari sekian cita yang sekarang sedang saya jalani, alhamdulillah. Perjalanan menuju tercapainya cita ini tidak mudah. Bukan cuma saya yang “berjuang”, tetapi juga suami, anak, dan keluarga terutama mamah saya. Setelah tercapaipun, bukan berarti perjuangan berhenti. Saya, suami, anak, dan mamah saya masih harus melanjutkannya. Cerita-cerita mengenai perjuangan ini mau saya bagi di sini, selain cerita-cerita menyenangkan yang menyertainya.

Selain itu, saya juga mau berbagi cerita lainnya. Mungkin bukan cerita sih, lebih tepatnya pikiran, pertanyaan, atau pendapat tentang banyak hal.

Semoga saya bisa konsisten.

Bangun Pagi di Bogor

06.05

Biasanya, setiap abis sholat subuh -yang seringnya kesiangan- pasti tidur lagi. Alasannya: (1) Mumpung Zaidan masih tidur; (2) Lagian kan malemnya selalu beberapa kali bangun, nenin Zaidan, belum lagi kalau Zaidan tidurnya ga enak, ngelonin sampe tidur lagi deh. Pagi-pagi mata masih berat;

Tapi, pagi ini beda. Begitu selesai sholat langsung kepikiran mau online dulu sebelum berenang, nunggu matahari keluar biar anget, Zaidan juga masih tidur. Baiknya si mas mau nyalain laptopnya dan nyiapin koneksi internet sampe tersambung, jadi istrinya yang gaptek ini tinggal make ;) Facebook, twitter, wordpress.

Sejak terakhir posting tulisan sampe sekarang akhirnya nulis lagi, banyak hal yang pengen diceritain. Mostly tentang anak dan keluarga tentunya :) Coba deh diinget-inget sebelum beneran ditulis, apa aja ya:

  • Cerita tentang perempuan 3 generasi; Setiap ke Bandung, liat nini masih seger dan sehat -alhamdulillah- has always been inspiring. Bangun selalu sebelum subuh, mandi selalu pagi dan sebelum matahari terbenam, makan ga rewel dan repot tapi dijaga, pergi pun masih sering naik angkot. Padahal, umurnya sekarang udah mau 73 tahun! Compare to my mom, yang umurnya udah 52 tahun, ga jauh beda.
  • Cerita tentang …

Waduh, giliran mau di-list kok jadi pada ilang semua ide ceritanya. Efek suara aliran sungai yang kedengeran jelas karena jendela dibuka kali yah? Jadi ga konsen :)

Well, yang jelas sekarang waktunya menikmati pagi di Bogor. Dingin. Semoga matahari nanti cerah, biar semangat berenangnya, aamiinn… Sarapan dulu ah.

*wadhuh ini bapak sama anak kok masih pada tidur tho*

just a drop by

Since Zaidan udah tidur dari tadi, dan pasti sebentar lagi bangun, i am quite sure that it’ll be just a drop by :p

The Back Up Plan is now on HBO dan nonton film yang di dalemnya ada orang hamil bikin inget lagi ke masa-masa hamil Zaidan dulu. Mulai dari perut yang masih rata, tambah besar dan tambah besar, sampai akhirnya dateng kontraksi, masuk ruang bersalin, ngeden-ngeden, dan voila! Zaidan, yang waktu itu belum ada namanya, masih dengan badan biru keungu-unguan, ditaro di dada. Subhanallah, I am a mom!

Ga kerasa, sekarang Zaidan udah 10 bulan 13 hari, hampir setahun :) Semoga Zaidan Mikail Aksata selalu sehat…. Hhc vvcfcn. V fcv …. Whuaaaa di udah baytnteg banguuunnn!!!!

Nostalgia

Tadi siang, tiba-tiba pengen baca lagi tulisan-tulisan di blog privat yang dulu kita bikin waktu belum nikah, alias masih tahap penjajakan. Blog itu cuma kita yang bisa isi, dan cuma kita juga yang bisa baca.

Zarf. Zaki Akhmad Risa Firstiyani.

Baca cerita-cerita di zarf bikin senyum-senyum sendiri. Ga kerasa, sekarang kita udah jadi satu, dan malah udah ada Zaidan. Ternyata emang beda yah kalau kita masih penjajakan sama udah nikah. Tambah beda lagi kalau udah punya anak.

Nostalgia, jadi kangen…

Pilihan Ibu

Seorang teman baru saja melahirkan kurang lebih dua minggu yang lalu. Tadi siang, saya ke rumahnya, menengok untuk yang ke-dua kalinya. Bayinya masih kecil, lucu banget! Jadi inget Zaidan waktu baru lahir. Tapi bayi teman saya ini rambutnya gomplok, alias tebal sekali. Kalau Zaidan dulu, rambutnya seuprit, mirip mamahnya, hihihi.

Waktu pertama kali ditengok, teman saya cerita, asinya belum keluar. Saya bilang supaya dia tenang aja, yang penting terus aja bayinya disusuin, nanti juga lama-lama keluar dan tambah banyak. Sekarang, setelah seminggu lebih, asinya udah keluar walaupun belum banyak. Tapi ternyata teman saya memutuskan untuk ga asi eksklusif. Bayinya disusui dengan asi dan susu formula secara bergantian. Karena putingnya juga lagi luka, jadilah bayinya disusui pake botol, perih katanya kalau disusui langsung. Sebulan setelah melahirkan, teman saya akan kembali kerja. Karena belum jadi karyawan tetap, jadinya belum bisa cuti tiga bulan.

Beda ibu, beda juga pilihan-pilihannya. Tapi apapun pilihannya, ibu pasti pengen yang terbaik buat anaknya ya :)

Gundul Ganteng

Gundul Ganteng alias Zaidan Mikail Aksata.

Ga kerasa, lima hari lagi umurnya genap empat bulan. Udah makin lihai tengkurepnya, makin tinggi ngangkat kepalanya, makin heboh gerak tangan dan kakinya, makin banyak ocehannya, makin sering ketawanya, makin pinter minta gendongnya, pokoknya makin banyak ulahnya :)

Ada dua komentar yang orang selalu bilang setiap ketemu Zaidan untuk yang pertama kalinya; pertama, “putih banget yaa…”; ke-dua, “panjang yaa…”. Malah mamahnya sempet dikira punya suami bule. Hihihi bule ciganjur. Pernah juga waktu gendong Zaidan papasan sama orang yang terus ngeliat bolak-balik, liat Zaidan, liat mamahnya, liat Zaidan lagi, liat mamahnya lagi. Mungkin dipikirnya, “ini mamahnya apa mbaknya ya?” :D

24/7 sama Zaidan, kadang masih suka ga percaya kalo sekarang udah punya anak. Padahal setiap hari mandiin, gantiin baju, nemenin main, nyusuin, nemenin tidur, pokoknya semua kegiatan ngalah sama Zaidan.

Banyak doa terucap setiap ngeliat Zaidan, tapi yang pertama dan utama, semoga Zaidan selalu sehat dan dijaga Allah SWT.