Empat Tahun Lalu

“Wah! Udah lengkap nih pembukaannya! Yuk pindah ke ruang bersalin!”, ujar salah satu suster yang akhirnya berhasil memeriksa pembukaan mulut rahim saya, setengah berteriak. Sejak dipastikan hamil, sampai beberapa saat menjelang melahirkan, saya tidak pernah periksa panggul dan periksa pembukaan. Alasannya cuma satu, saya takut. Tapi, niat saya untuk melahirkan tanpa operasi, bulat sebulat-bulatnya. Aneh sih, tapi boleh dong niat, apalagi selama kehamilan tidak pernah ada masalah selain ketakutan saya diperiksa pembukaan jalan lahir, hehehe…

H-2

“Kayanya bayinya besar nih Bu, tiga kilo lebih. Harus operasi nih kayanya…”, komentar suster yang ikut menyaksikan saya teriak histeris waktu alat medis yang bentuknya seperti mulut bebek dimasukkan “secara paksa” ke mulut rahim saya. Mungkin karena badan saya kecil, perut besar dan sepertinya bayinya besar, ditambah lagi tidak berani periksa pembukaan. Waktu itu saya datang ke rumah sakit tempat rutin kontrol kehamilan karena curiga air ketuban pecah. Sudah dimasukkan seperti kertas kecil untuk memastikan rembesan air yang saya temukan di rumah itu air ketuban atau bukan, tetap hasilnya tidak maksimal, karena ya itu tadi, saya takut. Akhirnya diputuskan untuk diperiksa pembukaan mulut rahimnya. Beberapa suster siap siaga. Karena saya tegang dan cenderung melawan, kaki dan tangan diikat ke kursi bersalin. Suster-suster itu sudah tidak bisa menahan tenaga saya. Berulang kali mereka bilang supaya rileks, tetap tidak bisa. Saya tegang setengah mati. Hasilnya, ketika alat itu dimasukkan, rasanya bikin saya teriak histeris sekencang-kencangnya. Mereka menyerah. Kemudian diputuskan menunggu saja hasil konsultasi dengan dokter besok pagi.

H-1

Ketemu dokter, kejadian yang sama terulang, walau tidak seluruhnya. Saat si mulut bebek itu sudah di depan mata, dokter sadar tegangnya saya tidak main-main. “Tegang banget nih ibunya, nanti bayinya ikut stress lagi. Yaudah ga usah deh. Kita USG aja ya… Air ketubannya masih ok kok…”. Tanpa pernah sekalipun menyebut kata “operasi”, dokter memberi saya deadline. Kalau sampai tiga hari ke depan belum ada tanda-tanda mau melahirkan, saya harus periksa lagi.

Malamnya, tepat jam setengah sepuluh, tidak lama setelah saya menghabiskan sepiring mie rebus pedas, perut mulai bereaksi. Mules. Saya pikir, ini dia waktunya. Mulai dari 15 menit sekali, rasa mules itu makin sering datang dan makin lama terasa. Bolak-balik ke kamar mandi karena rasanya seperti mau buang air besar, tapi ya tidak ada yang keluar. Jangankan tidur, cari posisi yang enak saja susahnya minta ampun. Serba salah. Satu-satunya yang lumayan membuat nyaman adalah waktu punggung bagian bawah diusap-usap, dipijat pelan-pelan. Nah, di sinilah peran partner in crime saya, bapaknya Zaidan. Setiap kontraksi datang, saya minta dipijat. Setiap itu pula dia siap bangun dan memijat. Awalnya sih terasa, enak, eeehh lama-lama kok makin pelan pijatannya, sampai akhirnya cuma tangan yang nempel. Hyaaaaa dia ketiduran. Kesel dong. Saya bangunin aja, minta dipijat lagi. Baru deh pijatan itu terasa lagi. Hihihi, kasihan sih, tapi gimana lagi.

Hari H

Jam dua dini hari, mucus plug itu keluar. Kontraksi makin intensif. Tiga jam kemudian akhirnya saya putuskan mau ke rumah sakit saja. Akhirnya setelah sholat subuh sambil duduk di kursi dan meringis-meringis di tengah bacaan sholat, saya berangkat ditemani suami yang bertugas terus memijat, dan mamah yang bertugas menyetir mobil ke rumah sakit. Kalau dipikir-pikir lagi, jelek banget saya waktu itu. Pergi tanpa ganti baju dulu, muka kusut, pakai daster sama sarung. Di jalan, suami telepon dokter karena saya cuma mau ditangani dia yang baik hati dan pengertian itu. Sesekali sambil memijat, suami menyuapi makanan seadanya. Mamah dengan sigap menyetir, dan untungnya jalanan di Sabtu pagi itu kosong tanpa hambatan.

Sampai di rumah sakit, lagi-lagi saya takut. Tidak mau diperiksa pembukaannya. Dokter masih sabar. Suster-suster yang tidak sabar. Setelah memberikan deadline lagi beberapa jam, dokter pergi meninggalkan saya yang tegang, karena harus periksa pasien lainnya. Suster-suster datang bergantian berusaha meyakinkan saya supaya rileks dan mau diperiksa. Saya keras kepala, takut. “Kalau sampe ada apa-apa sama bayi kamu, jangan nyesel yah…”, mamah akhirnya “mengancam”. Berhasil. Saya mikir, dan mau diperiksa. Tapi tetap, susah. Akhirnya, atas inisiatif mamah yang menyuruh seorang suster diam-diam datang sambil menunduk, dan suami mengajak ngobrol sambil memeluk dan menghalangi pandangan saya, berhasillah suster itu melakukan tugasnya dan ternyata pembukaan sudah lengkap!

Niat saya diridhai Allah SWT, alhamdulillah. Setelah mengejan sebanyak tiga ronde (dua kali setiap rondenya), keluarlah bayi ungu itu. “Akhirnya, kita ketemu juga…”, kalimat pertama yang keluar dari mulut saya begitu melihatnya. Atas izin-Nya, saya yang badannya kecil ini, akhirnya melahirkan secara spontan (normal) bayi sebesar 3,3 kg dengan panjang 49 cm.

Nikmat-Nya yang mana lagi yang bisa saya dustakan?

PS: Selamat ulang tahun yang ke-4 ya Zaidan Mikail Aksata :)

Konser Yang Aneh

Weekend pertama gw di Aceh gw habiskan dengan nonton konsernya Radja Ratu.

Jadi, waktu hari ke-2 gw kerja, salah satu ekspat -yang nampak ngefans sama Radja dan sempet nunjukkin kebolehannya nyanyiin lagu idolanya itu- cerita kalo mau ada konser di Aceh. Konsernya Radja dan Ratu. Dia bilang orang kantor pada mau nonton bareng. Dalam hati, “duh…males banget sih… Radja gitu loh…”. Eh sorenya gw dapet tiket konser itu. Heemm… setelah gw pikir-pikir, lumayan juga nih dapet gratisan, ga penting siapa artisnya, jarang-jarang kan gw nonton konser di Aceh nun jauh dari Jakarta dan Bandung ini. Hohoho…

Alhasil Sabtu malem abis Maghrib pergilah gw dan beberapa teman ke sebuah stadion lapangan sepak bola tempat konser bakal digelar. Sampai di sana, udah rame banget. Pintu masuk dibagi dua, satu pintu masuk untuk penonton perempuan, dan satu pintu masuk untuk penonton laki-laki. Oia, di Aceh, penonton konser harus dipisah antara yang laki-laki dan perempuan. Teorinya…

Di pagar pintu masuk penonton perempuan, ada kertas ditempel, kira-kira tulisannya begini, “Wajib mengenakan busana muslim”. Beberapa polisi syariah perempuan dan laki-laki yang seragamnya warna hijau -beda dengan seragam polisi biasa- berdiri dengan muka serius, sok galak. Pas mo masuk, gw sempet dicegat! Gara-garanya, gaya pake kerudung gw adalah dengan mengikat kerudung gw ke belakang, dan gw disuruh nurunin kerudung gw. Padahal, gw kan ga pake peniti, kalo kerudung gw turunin ya ga akan bisa, yang ada lepas! Selagi gw bingung, salah satu temen gw narik tangan gw sambil ngomong, “udah ayo masuk aja”. Temen gw yang lain juga sempet dicegat, alasannya sama ma gw.

Di dalem stadion, ada satu panggung lumayan besar, dua layar besar masing-masing di kiri dan kanan panggung, dan tidak lupa pagar besi pembatas antara laki-laki dan perempuan. Penontonnya banyak juga. Mungkin karena harga tiketnya relatif murah, sepuluh ribu perak.

Yang bakal tampil pertama adalah Ratu. Abis itu baru Radja. Eits, salah. Yang tampil pertama adalah polisi syariah.

Tiga orang laki-laki berseragam hijau itu naik ke atas panggung. Satu orang mendekati mic, dua orang lainnya berdiri di samping kanan dan kirinya, tapi agak ke belakang. Kalau cuma sekedar pidato singkat pembuka yang mengingatkan penonton untuk tertib dan tidak melanggar pagar pembatas sih, gapapa. Tapi ini… ya Allah, dia ceramah! Kira-kira setengah jam…

“Allah Akbar… Allah Akbar… Allah Akbar…”

“Aceh mau menerapkan syariat Islam, setuju tidaaaaakkk????”

“Kalau penonton laki-laki dan perempuan tidak dipisah, kan kasihan penonton perempuan…. dilanjutin pake bahasa Aceh, yang kata temen gw yang orang Aceh, dia ngomongnya yang aneh menjurus mesum gitu…”

Dalil-dalil, kutipan ayat Alquran, dll.

Nyanyi-nyanyi bahasa Aceh, dll.

Dll… dll…

Gw kok jadi ga simpatik. Gw kok jadi sebel. Norak banget sih tu orang. Pengen ikutan konser juga apa ya dia?

Penampilan Ratu keren! Kostum panggung duo Maia dan Mulan tertutup tapi tetep gaya. Suara Mulan bagus, bertenaga, tapi tetep kekontrol. Dia juga komunikatif sama penonton. Lagunya enak-enak, cara Mulan ngebawainnya juga pas banget dan bisa bikin penonton ikut tenggelam dalam kata-kata di lagunya… halaaahhh… apa itu gw doang yak? Huhuhuhu… Oia, penampilan yang keren itu sempet distop lumayan lama. Panitia naik ke atas panggung. Kenapa? Mereka dapet teguran dari polisi syariah. Katanya banyak penonton laki-laki pindah ke tempat penonton perempuan, dan kalo pada ga mau tertib, konser ga bisa diterusin. Kalau gw jadi Mulan ato Maia, kayanya mood gw uda keburu ilang buat tampil lagi deh…

Selesai Ratu, Radja tampil. Gw ga menikmati karena gw ga suka Radja. Akhirnya gw sesekali ngeliat pemandangan di sekeliling gw. Penonton laki-laki dan perempuan udah berbaur. Banyak pasangan, mulai dari ABG sampai orang dewasa, yang pegangan tangan, pelukan, atau sekedar ngobrol. Kerudung banyak yang dilepas. Di lagu-lagu tertentu, penonton loncat-loncat, sikut sana sikut sini, trus sempet rusuh deh. Untungnya gw dan teman-teman udah berhasil ngeluarin diri dari kerumunan sejak lagu terakhir Ratu abis, dengan selamat.

Petugas, polisi biasa, polisi syariah? Mereka ada. Berbaur juga sama penonton.

Gw jadi heran, apa gunanya yah setengah jam ceramah di awal konser tadi? Konser yang aneh.

— 12 April 2006

“Lo ga pengen tinggi apa?”

Banyak cara untuk mendorong seseorang agar mau berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menyindir orang itu terus – menerus. Nah, cara inilah yang saya pakai untuk adik saya.

“A’, lo ga pengen kurus apa?”

Dulu, sampai sebelum masuk SMA, badannya boleh dibilang ideal. Tidak kurus, tidak juga gemuk. Mukanya juga bisa dibilang lumayan. Tetangga dan beberapa temannya pernah memberi komentar, “Eh, si Irfan tuh mirip ama Indra Brugmann loh.” Dan saya hanya menjawab, “Idih, masa sih??”

Tapi sekarang, Masya Allaaahhh… Itu badan, perut khususnya, udah kaya bapak-bapak yang udah punya anak berapa aja. Belum lagi mukanya, walaupun masih ada teman saya yang menyebutnya “ganteng”, tetap saja saya merasa mukanya “boros”. Lha wong kalau habis bayar parkir sering dibilang “Pak” kok.

Nah, saya bermaksud baik dengan menyindirnya terus-terusan. Siapa tahu dia kesal dan akhirnya mau mulai rajin olah raga, syukur-syukur mengurangi porsi makannya. Tapi boro-boro. Yang ada, dia sekarang sudah punya kalimat balasan.

“Teh, lo ga pengen tinggi apa?”

Kurang ajar tuh anak. Huh. Kecil kan indah.

Oiah, saya memanggil adik saya itu dengan panggilan A’, singkatan dari Aa, alias kakak. Aneh memang, tapi ada alasannya kok. Jadi saya memanggil dia Aa dan dia memanggil saya Teteh. Ah sudahlah. Yang penting sekarang saya harus mencari kalimat balasan lagi.

— 19 Januari 2006

Kualat

Ya ampun! Blog lama saya masih ada dan masih bisa diakses! Ternyata dulu saya lumayan konsisten menulis. Banyak cerita, salah satunya adalah yang saya salin di bawah ini. Tulisan yang dibuat sembilan tahun yang lalu, waktu saya masih muda :p

Judulnya, “Kualat”.

Hari Ibu baru saja lewat. Barusan saya tiba-tiba ingat sesuatu yang sudah berhasil memberi saya pelajaran berharga, JANGAN PERNAH NGATAIN IBU SENDIRI, KUALAT!

Kejadiannya sudah lama, kapan tepatnya saya lupa.

“Nih Mah, rambut tuh kaya gini, bagus, jatoh.”

“Iihh kaya gini dong, bagus, ngembang.”

“Yaahhh… apaan rambut kaya ijuk gitu, bagusan yang jatoh gini. Di iklan-iklan sampo juga yang dipake’ kan yang rambutnya jatoh kaya gini, bukan yang ngembang gitu.”

Sejak itu (sepertinya) saya kualat. Dulu, dari kecil sampai SMA, rambut saya “jatoh”. Tipe rambut yang lemeees banget kalau habis keramas. Tapi sekarang, rambut saya jadi beda. Tidak lagi “jatoh”. Tidak lagi lemes kalau habis keramas. Yang ada malah ngembang. Kaku. Belum lagi, tidak setebal dan sehitam dulu. Padahal saya tidak pernah ngeblow rambut kalau habis keramas, malas. Padahal saya tidak pernah ke salon kalau bukan untuk potong rambut, kalau bukan untuk creambath setelah ujian, kalau bukan buat tampil rapi untuk kondangan.

Rambut saya sekarang seperti ijuk. Yaahhh…. ga sekeras dan sekaku ijuk sih, tapi tetep aja ga selemes dan sejatoh dulu. Dan rambut mamah saya tercinta itu masih seperti dulu. Hitam, tebal, dan saya semakin menyadari, rambutnya ternyata tidak seperti ijuk. Tidak “jatoh” seperti di iklan-iklan sampo memang, tapi lemes dan tidak kaku.

Saya kualat… Hhmmhh…

— 23 Desember 2005

Berani Mimpi

“There is nothing like a dream to create the future” —Victor Hugo

Dulu, saya termasuk orang yang tidak pernah (berani) punya mimpi. Jalani saja dulu apa yang ada di depan mata. Kalaupun ada yang ingin dicapai, cukup saya dan Tuhan yang tahu, tidak pernah saya berbagi soal ini dengan siapapun. Alasannya, takut kecewa dan malu. Mungkin ini sebabnya saya tidak pernah punya visi dan misi yang jelas hidup ini mau diisi dengan apa. Seingat saya, bahkan sampai menjelang kuliah pun, saya masih meraba-raba, tetap dengan prinsip jalani apa yang ada dulu. Tapi untungnya saya bahagia dengan (hampir) semua yang saya temukan waktu itu.

Sampai suatu saat, di salah satu warung makan di depan kampus, saya entah kenapa akhirnya membagi cita-cita yang ada di kepala waktu itu, kepada beberapa teman di tengah makan siang. Saya bilang kalau setelah kuliah nanti, mau kerja dulu tiga sampai empat tahun, lalu nikah di usia 25 tahun, punya anak, kerja lagi, dan sekolah lagi. Kerja di mana, belum tahu. Nikah sama siapa, belum jelas. Tapi saya berharap jalan hidup saya akan seperti itu. Sekarang, sembilan tahun kemudian, saya sedang menjalani semua yang saya citakan, dengan urutan yang sama persis. Perjalanan sepanjang hampir satu dekade itu memang tidak selalu mulus, banyak jatuh bangun, bahkan sampai ada air mata. Tapi, nikmat-Nya yang mana yang bisa saya dustakan?

Kalau melihat lagi ke belakang, rasanya memang semua sudah diatur. Banyak kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya mau. Tapi ternyata, yang saya dapatkan malah justru lebih menyenangkan dan membahagiakan pada akhirnya. Kalau dulu kalimat-kalimat seperti “apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan” atau “Tuhan pasti memberikan yang terbaik” terdengar klise buat saya, sekarang saya kena batunya. Saya sudah merasakan sendiri kebenarannya. Satu ungkapan yang juga selalu saya ingat adalah bahwa alam semesta akan membantu kita mewujudkan mimpi kalau kita juga sungguh-sungguh bekerja keras (lupa persisnya, tapi kurang lebih seperti itu).

“Lo bisa ngomong gitu karena akhirnya menyenangkan, cita-cita lo tercapai, coba kalo nggak, masih bisa ngomong gitu nggak?”

Well, ini kan cerita tentang pengalaman saya dan pelajaran yang saya ambil darinya. Setiap orang pasti punya cerita yang berbeda, silakan cerita di blog masing-masing saja ya, hehehe… Yang jelas, sekarang saya sudah tidak (terlalu) takut lagi untuk punya mimpi, walaupun masih takut membaginya dengan orang lain :)

Clayton, VIC.

Dua Tahun Tujuh Bulan

Dua tahun tujuh bulan, sejak terakhir saya menulis di sini. Banyak cerita yang seharusnya bisa dibagi, kalau saja saya tidak terlalu sibuk dengan kicauan di twitter atau update status di facebook. Kalau mau cari pembenaran, sifat saya yang perfeksionis bisa jadi penyebabnya. Seharusnya, menulis di blog ini kan tidak perlu terlalu serius, mengalir saja. Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Untuk menulis di sini, saya merasa harus mengalokasikan waktu khusus. Pilihan kata, kalimat, dan bagaimana alur tulisan dibuat, tetap harus dipikirkan dengan baik. Hasilnya, untuk menemukan kalimat pertama saja lamanya seperti mau menulis essay untuk tugas kuliah.

Mulai sekarang, saya mau mencoba rutin menulis (lagi).

Saya sedang mengungsi sementara, di benua tetangga. Sekolah (lagi) di Australia, adalah satu dari sekian cita yang sekarang sedang saya jalani, alhamdulillah. Perjalanan menuju tercapainya cita ini tidak mudah. Bukan cuma saya yang “berjuang”, tetapi juga suami, anak, dan keluarga terutama mamah saya. Setelah tercapaipun, bukan berarti perjuangan berhenti. Saya, suami, anak, dan mamah saya masih harus melanjutkannya. Cerita-cerita mengenai perjuangan ini mau saya bagi di sini, selain cerita-cerita menyenangkan yang menyertainya.

Selain itu, saya juga mau berbagi cerita lainnya. Mungkin bukan cerita sih, lebih tepatnya pikiran, pertanyaan, atau pendapat tentang banyak hal.

Semoga saya bisa konsisten.

Bangun Pagi di Bogor

06.05

Biasanya, setiap abis sholat subuh -yang seringnya kesiangan- pasti tidur lagi. Alasannya: (1) Mumpung Zaidan masih tidur; (2) Lagian kan malemnya selalu beberapa kali bangun, nenin Zaidan, belum lagi kalau Zaidan tidurnya ga enak, ngelonin sampe tidur lagi deh. Pagi-pagi mata masih berat;

Tapi, pagi ini beda. Begitu selesai sholat langsung kepikiran mau online dulu sebelum berenang, nunggu matahari keluar biar anget, Zaidan juga masih tidur. Baiknya si mas mau nyalain laptopnya dan nyiapin koneksi internet sampe tersambung, jadi istrinya yang gaptek ini tinggal make ;) Facebook, twitter, wordpress.

Sejak terakhir posting tulisan sampe sekarang akhirnya nulis lagi, banyak hal yang pengen diceritain. Mostly tentang anak dan keluarga tentunya :) Coba deh diinget-inget sebelum beneran ditulis, apa aja ya:

  • Cerita tentang perempuan 3 generasi; Setiap ke Bandung, liat nini masih seger dan sehat -alhamdulillah- has always been inspiring. Bangun selalu sebelum subuh, mandi selalu pagi dan sebelum matahari terbenam, makan ga rewel dan repot tapi dijaga, pergi pun masih sering naik angkot. Padahal, umurnya sekarang udah mau 73 tahun! Compare to my mom, yang umurnya udah 52 tahun, ga jauh beda.
  • Cerita tentang …

Waduh, giliran mau di-list kok jadi pada ilang semua ide ceritanya. Efek suara aliran sungai yang kedengeran jelas karena jendela dibuka kali yah? Jadi ga konsen :)

Well, yang jelas sekarang waktunya menikmati pagi di Bogor. Dingin. Semoga matahari nanti cerah, biar semangat berenangnya, aamiinn… Sarapan dulu ah.

*wadhuh ini bapak sama anak kok masih pada tidur tho*